Bantu Petani Srikuncoro, Tim Pengabdian UNIB Buatkan Pupuk Organik Cair

0
955

Bengkulu Tengah – Para Petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Teratai Desa Srikuncoro Kabupaten Bengkulu Tengah, mendapatkan transfer ilmu hasil riset dari beberapa peneliti dan dosen Universitas Bengkulu. Jum’at, 19 Agustus 2022.

Kegiatan ini berlangsung selama 4 bulan, dimulai dari bulan Juli hingga Oktober 2022. Saat berita ini diturunkan, Tim Pengabdi bersama Petani sedang melakukan praktek pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dengan bahan utama sampah rumah tangga.

Tim dosen yang diketuai oleh Prof. Ir. Zainal Muktamar, M.Sc, Ph.D dan beranggotakan Anandyawati, S.P., M.Si, Agung Trisusilo, S.P., M.P dan Kartika Utami, S.P., M.Sc ini membagikan ilmu pengetahuan formula POC yang sudah diuji skala laboratorium, uji rumah kaca dan uji lapangan.

Ketua Tim Pengabdian, Prof. Zainal Muktamar, mengatakan, pengabdian ini di rancang berlangsung secara rutin selama 4 bulan. Dimulai dari pelatihan mengenai POC, kemudian dipraktekkan dan dipanen bersama-sama. Setelah POC jadi, akan di uji cobakan bersama petani pada lahan budidaya. Agar petani mengalami sendiri, apa dampak positif dari POC itu sendiri. Setelah itu, pihaknya juga akan menyampaikan bagaimana mengemas POC itu agar tampak menarik dan bisa dijual dan menjadi sumber pendapatan tambahan.

Gambar ukuran Tong Pengomposan Anaerob (Taposan)

“Kami fokus melakukan penelitian mengenai POC ini dalam waktu 10 tahun bersamaan dengan pengembangan pupuk organik padat, vermi kompos yang sudah lebih dulu kami teliti dan dalami,” ungkap Ketua Tim, Prof. Zainal Muktamar.

Lanjut Prof. Zainal, ia berharap kegiatan ini, selain mentransfer ilmu hasil-hasil riset di perguruan tinggi. Juga bisa menjalin kerjasama dengan masyarakat dan membantu masyarakat mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga pupuk akhir-akhir ini. Hanya dengan memanfaatkan limbah-limbah yang tersedia disekitar masyarakat yang belum termanfaatkan, kita bisa menghasilkan Pupuk Organik Cair (POC) sebagai pupuk alternatif pengganti pupuk sintesis.

Formula POC hasil berbagai riset yang beliau lakukan adalah : 2 bagian kotoran ternak, 4 bagian urine ternak, 1 bagian top soil (tanah bagian atas), 2 bagian bahan segar, dalam hal ini adalah sampah rumah tangga dan 20 ml effective microorganism yang dilarutkan bersama 0.25 kg gula pasir.

Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam tong pengomposan ukuran 200 L. Tong pengomposan sendiri diberi nama TAPOSAN (Tong Pengomposan Anaerob), karena dalam proses pembuatan POC, dilakukan secara anaerob (kedap udara).

Tong Pengomposan Anaerob (Taposan)

Pengomposan dilakukan selama kurang lebih 1 bulan. Kemudian bisa diaplikasikan kepada tanaman, baik dengan disemprot ke daun atau dikocorkan (disiram) langsung ke tanah.

“TAPOSAN ini sudah kami daftarkan hak ciptanya kepada Kementerian Hukum dan HAM RI dengan No Sertifikat: EC00202252865. Hal ini agar informasi mengenai tabung kompos ini bisa beredar lebih luas,” ungkap Anandyawati, anggota Tim Pengabdi.

Sementara itu, Kepala Desa Srikuncoro, Romadhon, mengucapkan terimakasih kepada Tim Pengabdi Unib dan berharap kerjasama antara Desnya dan Unib dapat terjalin secara berkelanjutan.

“Desa Srikuncoro siap menerima informasi, pelatihan, penyuluhan, bahkan kegiatan-kegiatan penelitian dari Unib. Bahkan kami siap memfasilitasi lahan dan tenaga kerja. Kami membutuhkan masukan dan kerjasama yang baik, untuk kemajuan desa Srikuncoro,” tandasnya. (An/Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini