
Kota Bengkulu – Tampaknya Polresta Bengkulu tak main-main mendalami dugaan pengeroyokan di tempat hiburan malam Blackrock usai mendapat atensi langsung dari Polda Bengkulu.
Buktinya, pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 15.30 WIB, personel Polresta Bengkulu langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Tempat Hiburan Malam (THM) Blackrock.
Proses olah TKP dipimpin langsung Kapolresta Bengkulu Rahmad Hidayat melalui Kasat Reskrim AKP Frengki Sirahit yang diwakili Kanit Pidum Ipda Asian A.S. Sitorus beserta anggota, dan turut dihadiri Kapolsek Ratu Samban Dendi Putra.
Tak hanya itu, olah TKP juga menghadirkan para pelapor, korban hingga saksi yang mengaku melihat langsung peristiwa dugaan pengeroyokan tersebut.
Pantauan di lokasi, tampak para personil melakukan olah TKP dengan mempublikasi setiap adegan berdasarkan rekaman CCTV yang dikantongi penyidik.
Di lokasi kejadian, penyidik juga mengantongi 5 kursi yang digunakan pelaku dalam melempar korban.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polresta Bengkulu. Namun di lokasi kejadian, Kanit Pidum Ipda Asian A.S. Sitorus memastikan proses penyelidikan masih terus berlanjut dan perkara tersebut akan ditangani secara profesional.
Terpisah, Yuendi Chrysma (30), salah satu korban didampingi Andrianto (41) dan Suwandi (45) memberikan pernyataan resmi kepada awak media usai melakukan olah TKP.
“Kita melakukan olah TKP diundang Polresta Bengkulu,” ujar Yuendi Chrysma (30), salah satu korban didampingi Andrianto (41) dan Suwandi (45).
Menurut Yuendi, kedatangan mereka ke Blackrock saat itu hanya untuk mendampingi tamu. Ia memastikan antara korban dan pelaku tidak saling kenal.
“Jadi kami itu ada tamu, pak. Menyambut tamu di Blackrock. Kami duduk di sofa sekitar jam 10 malam. Awalnya asyik saja, terus tiba-tiba kami didatangi dan diserang sekitar jam 2 dini hari,” ungkapnya.
Saat kejadian, Yuendi juga mengaku melihat adanya benda tajam yang dibawa ke lokasi.
“Iya ada sajam, pisau. Saya luka di kening dan di beberapa bagian tubuh,” jelas Yuendi.
Lebih jauh, ia berharap kasus tersebut dapat diusut tuntas sehingga tidak ada lagi aksi main hakim sendiri dan keamanan Kota Bengkulu tetap terjaga.
“Harapan kami tentu diadili, supaya kami mendapatkan keadilan atas kejadian yang menimpa kami padahal kami tidak tahu-menahu,” demikian Yuendi.
Informasi lain, keributan berdarah pecah di Black Rock Cafe yang berada di Jalan S. Parman, Kelurahan Padang Jati, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, Rabu (20/5/2026) dini hari.
Peristiwa itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Berdasarkan keterangan korban, awalnya kedua kelompok berada di lokasi yang sama di Black Rock Cafe. Namun suasana mendadak memanas saat salah satu kelompok menghampiri korban dan langsung melakukan pemukulan.
Korban mengaku dipukul menggunakan botol dan gelas kaca. Tidak hanya itu, salah seorang rekan korban yang duduk di bagian belakang juga didatangi dan diancam menggunakan senjata tajam jenis pisau.
Situasi kemudian berubah ricuh. Sejumlah orang yang diduga merupakan rekan terlapor ikut terlibat hingga terjadi aksi pengeroyokan terhadap para korban secara bersama-sama.
Akibat kejadian tersebut, para korban mengalami luka di sejumlah bagian tubuh.
Korban Andrianto mengalami bengkak di bagian kepala, bibir pecah pada bagian atas dan bawah, serta memar di dada sebelah kiri. Sementara Yuendy Chrysma mengalami luka sobek di bagian kening, bibir pecah, dan nyeri di sekujur tubuh akibat pemukulan.
Sedangkan Suwandi mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh serta luka pada mata sebelah kanan.
Kasus ini kini ditangani Satreskrim Polresta Bengkulu setelah kedua belah pihak sama-sama membuat laporan polisi. (Rls)





