Black Rock di Kota Hadis: Dari Jedag-jedug, Alkohol, Bikini, Lalu Darah

16
Salah satu konten promo Black Rock Cafe, Foto: Dok/Tangkapan Layar- IG @blackrock_bengkulu
Salah satu konten promo Black Rock Cafe, Foto: Dok/Tangkapan Layar- IG @blackrock_bengkulu

Rejangtoday.com – Dentuman musik elektronik terdengar hampir setiap malam. Lampu-lampu pesta menyala hingga dini hari. Botol minuman beralkohol tersaji di atas meja-meja pengunjung. Dalam sejumlah agenda hiburan, penampilan penari berpakaian kurang bahan menjadi bagian dari event yang ditawarkan kepada pelanggan.

Pemandangan itu bukan sesuatu yang asing di Black Rock Cafe, salah satu tempat hiburan malam yang beroperasi di kawasan Tanah Patah, Kota Bengkulu.

Namun, gemerlap hiburan malam yang selama ini ditawarkan berakhir dengan noda darah setelah insiden pengeroyokan yang terjadi pada Rabu dini hari (20/5/2026). Sejumlah orang mengalami luka-luka dan kasus tersebut kini dalam penanganan aparat kepolisian.

Peristiwa itu bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Insiden berdarah tersebut adalah puncak dari berbagai persoalan yang selama ini berkembang di sekitar operasional Black Rock Café.

Di Tengah Kota Hadis

Kota Bengkulu selama ini dikenal dengan semboyan religius yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Bahkan Pemerintah Kota Bengkulu mengusung tagline “Kota Hadis” sebagai visi pembangunan yang menempatkan nilai-nilai keagamaan sebagai identitas daerah.

Namun di tengah narasi kota religius itu, Black Rock Cafe hadir dengan konsep hiburan malam yang identik dengan musik keras, minuman beralkohol, pesta malam hingga berbagai pertunjukan hiburan modern.

Kontras tersebut selama bertahun-tahun memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian melihatnya sebagai bagian dari industri pariwisata dan hiburan, sementara sebagian lainnya menilai keberadaannya tidak sejalan dengan karakter sosial dan budaya daerah.

Perdebatan yang selama ini hanya menjadi percakapan publik kini kembali mengemuka setelah terjadinya aksi kekerasan yang menyebabkan korban luka.

Alkohol dan Pengawasan yang Dipertanyakan

Dilansir dari bengkuluinteraktif.com menunjukkan aktivitas penjualan minuman beralkohol menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasional hiburan malam di Black Rock.

Dalam berbagai dokumentasi kegiatan yang beredar, minuman beralkohol menjadi salah satu daya tarik utama yang ditawarkan kepada pengunjung.

Kondisi tersebut tentu memunculkan tuntutan agar pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap legalitas distribusi dan penjualan minuman beralkohol yang beredar di lokasi usaha.

Desakan audit muncul karena konsumsi alkohol sering kali menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam berbagai kasus keributan yang terjadi di tempat hiburan malam.

Dari Bikini Menjadi Kontroversi

Penelusuran melalui media sosial memperlihatkan sejumlah event yang menghadirkan penari wanita dengan busana minim sebagai bagian dari hiburan yang ditawarkan kepada pengunjung.

Dalam industri hiburan malam, konsep tersebut bukan hal baru. Namun di Bengkulu, yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan kultur religius yang kuat, penampilan semacam itu berulang kali memicu kritik dari berbagai kalangan.

Kontroversi muncul bukan hanya karena bentuk hiburannya, tetapi juga karena lokasinya berada di tengah lingkungan masyarakat yang setiap hari berinteraksi dengan aktivitas tersebut.

Bagi sebagian warga, hiburan malam tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, melainkan telah menjadi fenomena sosial yang berdampak terhadap lingkungan sekitar.

Di Tengah Permukiman Warga

Lokasi Black Rock Cafe berada di kawasan yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat dan lingkungan permukiman. Keberadaannya menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian fungsi ruang dengan aktivitas hiburan malam yang berlangsung hingga larut malam.

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa persoalan tata ruang menjadi salah satu isu yang mulai mendapat perhatian publik pasca terjadinya insiden pengeroyokan.

Pertanyaan yang muncul sederhana, apakah aktivitas hiburan malam berskala besar tersebut telah sepenuhnya sesuai dengan peruntukan kawasan sebagaimana diatur dalam dokumen tata ruang daerah, Perda RTRW?

Pertanyaan itu hingga kini belum memperoleh jawaban terbuka yang dapat diakses publik secara luas.

Ketika Darah Tumpah

Klimaks akhirnya terjadi saat keributan pecah dan menimbulkan korban luka. Yang semula hanya dikenal sebagai lokasi hiburan malam kini menjadi tempat kejadian perkara dalam kasus dugaan pengeroyokan.

Insiden tersebut sekaligus membuka kembali berbagai persoalan yang selama ini berada di bawah permukaan. Mulai dari pengawasan keamanan, peredaran minuman beralkohol, konsep hiburan yang dipertontonkan, dugaan pengunjung usia muda, hingga kesesuaian tata ruang.

Bahkan muncul pertanyaan lain yang tak kalah penting, bagaimana sistem keamanan di lokasi tersebut berjalan sehingga keributan dapat berkembang menjadi aksi kekerasan yang menyebabkan korban luka?

Apalagi dalam perkembangan informasi yang beredar, muncul dugaan penggunaan senjata tajam dalam insiden tersebut.

Momentum Evaluasi

Kasus pengeroyokan yang terjadi di Black Rock Cafe kini tidak lagi dipandang semata sebagai perkara kriminal biasa. Peristiwa tersebut telah berkembang menjadi momentum untuk mengevaluasi keberadaan dan operasional tempat hiburan malam di Kota Bengkulu secara lebih menyeluruh.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar siapa yang terlibat dalam perkelahian. Yang lebih penting adalah apakah seluruh aspek operasional usaha telah berjalan sesuai aturan, apakah pengawasan pemerintah telah berjalan optimal, dan apakah keberadaan tempat hiburan malam tersebut masih sejalan dengan arah pembangunan daerah yang selama ini mengusung identitas religius.

Di tengah slogan Kota Hadis, insiden berdarah di Black Rock Cafe menjadi pengingat bahwa setiap aktivitas usaha yang menyentuh ruang publik membutuhkan pengawasan yang ketat, transparansi perizinan, serta keberanian pemerintah untuk melakukan evaluasi ketika kepentingan Masyarakat dipertaruhkan.

Kini, setelah jedag-jedug musik, alkohol, dan bikini, yang tersisa adalah satu fakta yang sulit dibantah: darah telah tumpah, dan publik menunggu langkah nyata dari pemerintah.

Salam Redaksi!