Penguatan Kode Etik Dalam Bulan Ramadhan

0
100

Jakarta – Bagi setiap muslim yang berharap rahmat maghfirah dan terhindar dari api neraka,mungkin pendapat saya Ramadan adalah solusi atau jawabannya. Bulan Ramadan, bulan puasa, bulan penuh rahmat, penuh ampunan dan bulan yang apabila kaum muslim tekun beribadah di dalamnya akan terhindar api neraka. Entah puasa tahun ini kita merupakan puasa pertama, kedua, ketiga, atau merupakan puasa tahun ke enampuluh, yang jelas dia selalu datang tiap tahun untuk semuanya baik yang selalu menunggu, berharap sama sekali akan kemuliaannya. kata Ramadan adalah bulan penuh berkah, berkah untuk siapa saja yang memuliakannya dan bukan penuh ampunan bagi seluruh umat manusia terutama mayoritas agama Muslim.

Kemulyaan pada bulan Ramadan ini nampak banyak pada peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam atau pun sejarah kemerdekaan pada bulan Ramadan ini, seperti kemenangan ummat Islam dalam perang Badar, Penaklukan Mekah juga yang dikenal dengan istilah Fathu Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan dan al-Qur’an pertama kali diturunkan oleh Allah pada tanggal 17 Ramadan dan banyak lagi.Dan sejarah Indonesia pada bulan Ramadhan juga ada yaitu Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 juga terjadi di bulan Ramadan tepatnya 9 Ramadan 1364 H pada Hari Jum’at Legi. Karenanya tidak berlebihan bilamana Ramadan kita jadilan sebagai momentum untuk muhasabah diri atau untuk mendekatkan diri kepada Allah. Merenungkan dan membayangkan kembali segala aktifitas keduniaan kita sehari-hari dengan menjalani puasa Ramadhan dengan penuh khidmat dan berkah.

Bulan Ramadan yang di dalamnya ada perintah berpuasa bagi orang yang beriman atau orang yang beragama muslim semestinya dan Hukum fardu ain yang bertujuan agar setiap Muslim yang menjalankan menjadi pribadi yang taqwa dan lebih baik untuk kedepanya. Puasa akan menguatkan Iman dan kesadaran kita kepada Allah swt. Dalam bahasa agamanya, manusia sadar adalah manusia yang telah dianugerahi ihsan. Dengan menjadi Ihsan, manusia selalu bisa hidup dengan sadar dan bertanggung jawab di hadirat Allah, yang selalu menjaganya. Dan karena sadar bahwa Allah selalu menjaganya, ia dapat menjadi manusiawi. Apa yang dimaksud dengan menjadi manusiawi. Yang intinya bahwa manusia itu untuk menjadi beradab,ber Ahlak dll. Menjadi manusiawi dan beradab atau ber Ahlak pendapat saya identik satu sama lain, karena keduanya merupakan aspek yang sentral dari kemanusiaan. Maka ihsan, sebagai kesadaran akan kehadiran Allah, menjadi bukan hanya fundamental tapi juga prinsip yang menjamin keberadaban manusia. Jika manusia (muslim) kehilangan ihsan-nya, ia juga akan kehilangan kemanusiaan dan keberadabannya, perilaku terhadap manusia.

Dan dengan orang-orang yang berpuasa menjadi sadar diri akan kemanusiaannya, tentu ia juga akan menjadi pribadi yang berdisiplin dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari terutama pada profesi yang digelutinya. Apapun profesinya seseorang yang telah ditempa dalam madrasah Ramadan akan lebih memiliki kecenderungan untuk mampu menahan diri dari perilaku yang melanggar etika, seperti orang yang berpuasa 1.di larang makan dan minum 2.dilarang berhubungan intim suami istri di siang hari di bulan Ramadhan, 3.muntah dengan sengaja 4.haid dan nifas dan banyak lagi itu etika” Yang harus di garis bawahi saat kita menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan.

Oleh: M. Ridho Malik Ibrahim, Mahasiswa Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini