
Desa Pagardin
Desa Pagardin merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Desa ini terletak di wilayah perbukitan dengan kontur dataran yang dikelilingi aliran sungai dan perkebunan masyarakat, menjadikannya kawasan yang cukup potensial di sektor pertanian dan perkebunan. Secara administratif, Desa Pagardin berbatasan langsung dengan Desa Kualalangi di sebelah Utara, Desa Tanjung Dalam di sebelah selatan, kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di sebelah timur, serta Desa-Desa wilayah Kecamatan Ketahun di sebelah barat.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000 jiwa dan terdiri dari ratusan kepala keluarga, mayoritas warga Desa Pagardin menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan rakyat seperti kelapa sawit, karet, dan tanaman palawija. Selain itu, sebagian masyarakat juga berprofesi sebagai buruh, pedagang kecil, dan aparatur sipil negara. Namun sayangnya, potensi ekonomi ini belum sepenuhnya didukung oleh kondisi infrastruktur yang memadai. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya penghubung antar dusun dan akses keluar-masuk desa mengalami kerusakan berat sejak banjir dahsyat pada Agustus 2022. Kondisi jembatan yang miring hingga sekitar 35 derajat dan tiang penyangga yang nyaris roboh membahayakan keselamatan pengguna dan telah menjadi kekhawatiran besar masyarakat setempat.
Tak hanya itu, akses jalan penghubung desa juga masih didominasi jalan tanah dan kerikil, yang sulit dilalui saat musim hujan. Dalam bidang pendidikan, Desa Pagardin sudah memiliki satu unit sekolah taman kanak-kanak (TK), satu unit dasar (SD), dan satu unit sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Untuk jenjang pendidikan menengah, anak-anak desa harus menempuh perjalanan jauh ke desa atau kecamatan lain. Walaupun begitu, semangat belajar masyarakat tetap tinggi. Dalam kehidupan sosial budaya, masyarakat Desa Pagardin sangat menjunjung nilai kekeluargaan, gotong royong, dan kearifan lokal. Kegiatan keagamaan seperti pengajian, peringatan hari besar Islam, dan majelis taklim rutin dilaksanakan sebagai bagian penting dari kehidupan sosial.
Meskipun dihadapkan pada tantangan yang cukup berat, Desa Pagardin menyimpan potensi besar dalam pengembangan sektor perkebunan rakyat, kehutanan berkelanjutan, dan ekowisata berbasis sungai dan alam. Namun, semua potensi tersebut akan sulit terealisasi tanpa perhatian serius dari pemerintah, khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur dasar seperti jembatan permanen dan jalan penghubung. Masyarakat sangat berharap janji-janji pemerintah, baik dari kabupaten, provinsi hingga pusat supaya dapat diwujudkan secara nyata agar desa mereka tidak terus merasa dianaktirikan. Dengan adanya pemerataan pembangunan, Desa Pagardin diyakini dapat tumbuh sebagai desa mandiri, produktif, dan berdaya saing.
Kontribusi Wilayah Desa Pagardin terhadap Pendapatan Daerah
Desa Pagardin, yang terletak di Kecamatan Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara, merupakan salah satu desa yang memiliki peran signifikan dalam menyumbang pendapatan daerah, khususnya dari sektor pertanian dan perkebunan rakyat. Mayoritas lahan produktif di desa ini dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit, karet, serta tanaman palawija. Hasil panen dari komoditas tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasarkan hingga ke luar daerah, yang secara tidak langsung memberikan kontribusi terhadap arus ekonomi regional dan perolehan pajak daerah, seperti PBB-P2 (Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan) serta retribusi hasil bumi.
Selain itu, keberadaan beberapa pelaku UMKM dan perdagangan kecil di desa ini, meskipun dalam skala terbatas, juga memberi kontribusi terhadap perputaran ekonomi wilayah kecamatan. Seiring dengan tingginya hasil pertanian dan aktivitas niaga lokal, Desa Pagardin berpotensi menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ekonomi berbasis agraria. Beberapa warga juga terlibat sebagai tenaga kerja di sektor perkebunan swasta, yang menciptakan sumber pendapatan rumah tangga dan turut meningkatkan daya beli masyarakat.
Namun lagi-lagi, potensi tersebut belum sepenuhnya optimal dikonversi menjadi pendapatan daerah yang maksimal karena masih terbatasnya akses infrastruktur, seperti jembatan dan jalan penghubung desa yang rusak parah. Hambatan ini tidak hanya memperlambat distribusi hasil pertanian ke pasar, tetapi juga menurunkan efisiensi rantai pasok yang berdampak pada nilai jual hasil bumi yang tidak setabil. Dengan kata lain, perbaikan infrastruktur dasar di Desa Pagardin tidak hanya menyangkut aspek kesejahteraan masyarakat, tetapi juga merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kontribusi desa terhadap PAD secara langsung dan tidak langsung.
Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi aktif dari pemerintah kabupaten dan provinsi untuk memfasilitasi percepatan pembangunan desa melalui peningkatan akses, pemberdayaan ekonomi rakyat, serta insentif fiskal dan kebijakan pro-desa. Dengan potensi agraria yang besar, sumber daya manusia yang produktif, serta komitmen pembangunan yang kuat dari masyarakat, Desa Pagardin layak dipandang sebagai wilayah strategis pendukung pembangunan ekonomi daerah Bengkulu Utara.
Janji Manis pemerintah
Hampir tiga tahun sudah Jembatan Gantung Desa Pagardin, Kecamatan Ulok Kupai, Bengkulu Utara, menjadi cerita duka yang tak kunjung berakhir. Jembatan yang menjadi nadi penghubung kehidupan warga, baik untuk akses pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Sampai saat ini kondisi jembatan tersebut sangat miris, keadaanya yang berdiri miring, ringkih, dan nyaris putus asa, sangat jauh dari kata “Maju, Aman, Nyaman dan Sejahtera” seperti visi dan misi Bupati Bengkulu Utara.
Jembatan sepanjang 80 meter yang menjulang di atas sungai dengan ketinggian hampir 20 meter ini sejatinya bukan sekadar infrastruktur, tapi simbol harapan. Namun, sejak diterjang banjir dahsyat pada Agustus 2022, harapan itu seolah terkubur di dasar sungai. Bahkan menurut Kepala Desa Pagardin, Eko Satrio, jika jembatan itu roboh, tak hanya akan memutus akses warga, tapi juga berpotensi merenggut nyawa.
Sudah tak terhitung jumlah kunjungan pejabat yang meninjau langsung kondisi jembatan ini. Mulai dari DPRD hingga pejabat eksekutif daerah. Bahkan, pada 11 Desember 2024, Bapak Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, datang langsung ke lokasi dan secara tegas menyatakan bahwa jembatan tersebut akan menjadi prioritas utama pemerintah daerah bersama H. Sumarno dalam masa kepemimpinan mereka. Dengan penuh semangat, ia berkata: “Saya datang bukan sekadar datang. Mata, telinga, dan hati saya bergerak untuk membangun Ulok Kupai, khususnya Desa Pagardin.”
Pertanyaannya, di mana implementasi dari pergerakan nurani itu sekarang? Sudah pertengahan 2025, dan belum ada kejelasan soal realisasi anggaran untuk pembangunan jembatan. Padahal, menurut keterangan resmi pemerintah desa, kebutuhan anggaran sebesar Rp 25 miliar untuk pembangunan jembatan permanen telah diajukan melalui berbagai skema, termasuk melalui program Inpres saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Bengkulu.
Warga pun tak tinggal diam. Mereka sudah menyampaikan aspirasi, bahkan dengan getir mengungkapkan kekecewaan karena merasa dianaktirikan. Dan mempertanyakan peran anggota DPRD sebagai penyambung aspirasi masyarakat.
Sebagai putra Pekal, kami merasa terpanggil untuk mengingatkan kembali pemerintah daerah maupun provinsi. Bukan dalam nada marah atau mencaci, tapi dengan harapan dan ketegasan: janji harus ditepati.
Kami tidak minta lebih. Kami hanya ingin jembatan kami kembali berdiri dengan kokoh, seperti semangat kami menjaga desa ini tetap hidup. Kami tidak ingin korban jiwa menjadi alasan satu-satunya untuk bertindak. Pemerintah masih punya waktu untuk membuktikan komitmennya sebelum semua ini terlambat.
Dalam semangat membangun Bengkulu Utara yang maju, hebat, dan bahagia sebagaimana visi misi ASA (Arie Sumarno), biarlah pembangunan jembatan Pagardin menjadi simbol nyata dari janji yang ditepati, bukan hanya slogan yang diabadikan.
Oleh: Ahmad Junizar, Putra Pekal, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) 2023-2024. Da’i Majlis Ulama Indonesia (MUI)- Komisi Dakwah MUI Pusat. Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Biografis





