Rejangtoday.com – Malam itu, lentera menyala redup di perkemahan kami. Angin Karbala membawa bisikan maut. Sayyidina Husain berdiri, memadamkan lampu, dan berkata, “Barang siapa yang ingin pergi, malam ini aku bebaskan. Esok, hanya maut yang menanti.”
Tapi tak satu pun dari kami melangkah mundur. Kami tahu ini bukan pertempuran untuk menang. Ini adalah kesaksian: bahwa di hadapan tirani, kehormatan lebih mahal dari nyawa.
Sayyidina Husain tidak memberontak untuk kekuasaan. Ia menolak membaiat Yazid ibn Muawiyah karena penolakannya pada sistem pewarisan kekuasaan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ia berkata:
“Aku keluar semata-mata untuk menegakkan perbaikan di tengah umat kakekku (Nabi Muhammad).”
Pagi 10 Muḥarram itu, satu demi satu syahid. Ali al-Akbar—putra kesayangannya—pergi ke medan tempur dengan wajah yang mengingatkan kami pada kakeknya, Rasulullah. Lalu satu per satu, keponakannya, para pemuda dari Bani Hasyim, dan sahabat-sahabat setia—semua syahid dalam kehormatan
Satu momen yang tak akan pernah kulupa: al-Husain berdiri mengangkat bayi kecilnya, ʿAbdullah, memohon setetes air. Musuh tak menjawab dengan belas kasih, tapi dengan anak panah. Bayi itu wafat di pelukannya. Dan aku melihat, untuk sesaat, langit seperti berhenti bernafas.
Kami tinggal segelintir. Dikepung ribuan. Tapi tidak satu pun dari kami mengeluh. Karena di hadapan kami ada lelaki agung, cucu Nabi, yang tak sedikit pun mundur.
Dan saat akhirnya beliau jatuh tersungkur di atas padang debu, tubuhnya penuh luka, kepala suci itu dipenggal oleh tangan yang gelap, langit seperti pecah oleh ratap para malaikat.
Kami, para sahabatnya, telah gugur. Tapi kami ingin kalian tahu: kebenaran itu bukan tentang jumlah, tapi keberanian. Dan darah yang tumpah di Karbala akan terus hidup—di hati yang tak rela membiarkan agama dijual demi tahta.
Jangan biarkan sejarah ini hanya dibaca. Hiduplah dengannya. Karena setiap zaman punya Yazid-nya. Dan setiap hati ditanya: kau bersama siapa?
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا عَلَى خُطَى الْحُسَيْنِ، نَصْدُقُ إِذَا كَذَبَ النَّاسُ، وَنَثْبُتُ إِذَا رَجَفَ الزَّمَانُ.
“Ya Allah, tetapkan kami di jalan Ḥusain: jujur saat dunia berdusta, teguh saat zaman gemetar.”
Oleh: Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD






