Meraih Kebaikan dan Keberkahan dengan Doa Orang Tua

289
Oleh: Ahmad Junizar, Putra Pekal, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) 2023-2024, Da’i Majlis Ulama Indonesia (MUI)- Komisi Dakwah MUI Pusat, Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Oleh: Ahmad Junizar, Putra Pekal, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) 2023-2024, Da’i Majlis Ulama Indonesia (MUI)- Komisi Dakwah MUI Pusat, Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Rejangtoday.com – Dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan, rintangan hingga cobaan, seorang anak sangat membutuhkan sosok pengayom, penasehat dan sosok yang selalu hadir untuk memberi semangat juga bimbingan agar keputusan atau tindakan yang dipilih bisa berdampak baik. Sejak kecil seorang anak mendapatkan hal tersebut dari kedua orang tuanya, mulai dari merangkak, berlatih berdiri, hingga bisa berjalan dengan berlari. Tak berhenti disitu orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, salah satu yang mereka lakukan adalah mendoakan anak-anaknya dengan hal-hal baik.

Doa kedua orang tua merupakan harapan, permintaan yang paling tulus dan tidak mempunyai rintangan untuk melewati pintu-pintu langit sehingga ungkapan dan doanya diprioritaskan oleh Allah untuk segera dikabulkan. Doa orang tua adalah rahmat yang lahir dari kasih sayang tanpa batas cinta yang tidak mengenal pamrih untuk anak-anaknya. Dalam setiap keberhasilan seorang anak, ada rintihan seorang Ibu di sepertiga malam dan sujud seorang ayah yang tak henti meminta segala hal baik agar di berikan oleh Allah kepada anak-anaknya.

Doa orang tua adalah sumber kekuatan bagi seorang anak dalam mengapai cita-cita dan menyimpan banyak keberkahan namun sering kali terlupakan. Sebaliknya, kesempitan hidup bisa disebabkan oleh lalainya seorang anak terhadap doa dan keridaanya. Melalui pembahasan ini, kita akan menelusuri keajaiban doa, kedudukan orang tua dalam Islam, kekuatan doa orang tua menurut hadis, hingga pesan bagi mereka yang berposisi sebagai seorang anak terkhusus bagi generasi milenial dan Gen Z agar tidak melupakan jasa mereka.

Keajaiban Doa dalam Perspektif Epistemologi Islam

Secara etimologis, kata doa (دُعَاء) dalam bentuk masdar dari akar kata da’a–yad’u–du’ā’an yang berarti memanggil, meminta, atau menyeru. Dalam konteks Islam, doa adalah bentuk pengakuan hamba atas kelemahannya dan pengharapan penuh kepada Allah.

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖ

Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60)

Berdasarkan sabda Nabi saw:

‌الدُّعَاءُ ‌مُخُّ ‌الْعِبَادَةِ

“Doa adalah inti ibadah” (HR. at-Tirmizī dari Anas bin Mālik)

Didalam kitab Tuhfah Al Abrar, Al Baidhawi menjelaskan bahwa hadis ini menegaskan doa merupakan bentuk penghambaan yang paling sejati, karena ketika berdoa seorang hamba benar-benar menghadapkan dirinya kepada Allah swt, berpaling dari segala sesuatu selain-Nya, serta tidak berharap dan tidak takut kecuali kepada-Nya semata. Hal ini ditegaskan pula oleh Q.S Ghofir: 60 memerintahkan manusia untuk berdoa, menunjukkan bahwa doa adalah perintah yang wajib dilaksanakan. Ketika seorang hamba menunaikannya dengan tulus, Allah pasti mendengarkan, menerima, dan mengabulkannya.

Oleh karena itu, ketika Allah berfirman bahwa orang-orang yang menyombongkan diri, enggan beribadah kepada-Nya akan masuk ke dalam neraka yang hina, yang dimaksud dengan ibadah di sini juga mencakup doa. Ayat tersebut menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang enggan tunduk dan berdoa kepada Allah, sekaligus menjadi ajakan penuh kasih bagi hamba-hamba yang beriman agar senantiasa menghambakan diri, berdoa dengan ikhlas, dan menggantungkan segala harapan hanya kepada-Nya. Sebab, doa yang tulus tidak hanya mempererat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi jalan menuju ampunan, ketenangan, dan kebahagiaan dunia serta akhirat.

Doa memiliki kekuatan luar biasa dalam mengubah takdir yang mu’allaq sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat لا يرد القضاء إلا الدعاء (Tidak ada yang menolak taqdir kecuali doa) Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Jawāb al-Kāfī: “Doa adalah senjata orang beriman, penolak musibah, dan pengundang rahmat. Ia dapat menolak takdir atau meringankannya, sebagaimana senjata takkan berguna tanpa kekuatan tangan yang menggunakannya.” Karena itu, doa orang tua yang lahir dari hati penuh cinta dan keikhlasan memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Doa mereka bukan sekadar permohonan, tapi seruan kasih sayang yang dibingkai dengan iman.

Kedudukan Orang Tua dalam Islam

Islam mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain), kewajiban ini sering sekali disandingkan setelah setelah ketaatan kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah sat. berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’: 23)

Rasulullah bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ ‌فِي ‌سَخَطِ ‌الْوَالِدِ

“Keridaan Allah tergantung pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orang tua.” (HR. Al Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad)

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa ada tiga orang yang terjebak dalam sebuah gua. Salah seorang dari mereka berdoa kepada Allah dengan menyebut amal salehnya. Amal soleh yang dilakukan oleh orang tersebut ialah, Ia tidak pernah memberi makan keluarganya sebelum memberi makan kedua orang tuanya, meskipun anak-anaknya lapar. Karena ketulusan bakti itu, batu besar yang menutup gua pun bergeser. Kisah ini menunjukkan bahwa birrul walidain menjadi sebab datangnya pertolongan Allah di saat-saat keadaan paling genting.

Sebaliknya, sebuah kisah seorang ahli ibadah bernama Abu Juraij yang lalai memenuhi panggilan dari sang ibunnya. Ketika Abu Juraij sedang melakukan ibadah salat sunnah ibunya memanggil, lalu dia bimbang antara menjawab panggilan ibunya atau melanjutkan salat. Abu Juraij memilih untuk melanjutkan salat sedangkan ibunya memanggil berulang kali hingga ibunya berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau matikan dia sampai dia melihat wajah pelacur.”

Suatu ketika, fitnah menimpa Abu Juraij seorang wanita pelacur menuduhnya berzina hingga ia dipermalukan di hadapan masyarakat. Walaupun pada akhirnya terbukti bahwa ia tidak bersalah, dan bayi yang dituduh anaknya berbicara membelanya. Abu Juraij pun sadar semua itu karena doa ibunya. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa doa orang tua yang tersakiti oleh anaknya bisa membawa ujian berat, meskipun seseorang itu ahli ibadah.

Keutamaan Doa Orang Tua dalam Hadis

Rasulullah bersabda:

ثَلاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ، لا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ.

“Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang beberapa doa yang pasti dikabulkan. Pertama, “Doa orang yang dizalimi”, yaitu doa pertama yang pasti dikabulkan oleh Allah. Ketika orang yang dizalimi berdoa untuk kebaikan atau keburukan terhadap orang yang menzalimnya, maka Allah akan mengabulkannya dan tidak menolaknya. Kedua, Doa orang yang sedang bepergian (musafir)”, Doa seorang musafir akan dikabulkan selama ia masih berada dalam perjalanan dan belum pulang, dengan syarat perjalanannya bukan untuk tujuan maksiat. Ketiga, “Doa kedua orang tua terhadap anaknya”, jika orang tua berdoa terhadap anaknya dalam, baik doa yang positif ataupun negatif misalnya karena anak tersebut durhaka, menzaliminya, atau tidak memenuhi hak-hak orang tua. Doa “orang tua” di sini mencakup ayah dan ibu. Ada yang mengatakan bahwa ibu tidak disebutkan secara khusus karena haknya lebih besar, sehingga doanya lebih layak untuk dikabulkan. ( https://dorar.net/hadith/sharh/35309)

Hadis ini mengandung peringatan keras agar menjauhi kezaliman dan kedurhakaan kepada orang tua, dan sebagai anjuran agar seorang anak selalu memohon doa restu orang tua sebelum memulai segala urusan, sebab doa mereka menjadi junnah (perisai) dari kesulitan dan penolak bala.

Pesan Untukmu Jangan Lupakan Doa Orang Tua

Zaman modern sering menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai spiritual keluarga. Gaya hidup digital, kesibukan akademik, dan arus globalisasi membuat banyak anak lupa bahwa keberkahan hidup sering kali bersumber dari doa ayah dan ibu yang sederhana. Anak saleh adalah investasi spiritual orang tua di akhirat. Karena itu, berbaktilah selagi mereka hidup, dan doakanlah mereka setelah tiada. Dalam era serba cepat, meluangkan waktu untuk mengucap terima kasih, menelepon, atau mendoakan orang tua adalah bentuk ibadah besar yang sering diremehkan.

Allah berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isrā’: 24)

Doa orang tua adalah pintu kebaikan, keberkahan, dan keselamatan hidup bagi seorang anak. Barang siapa menjaga hati orang tuanya, menyayanginya, ia sedang menjaga hubungan dengan Allah. Barang siapa berani menyakiti mereka, ia menutup pintu langit bagi dirinya sendiri. Dalam setiap langkah, keberhasilan, dan keberkahan hidup, selalu ada doa orang tua yang tidak terdengar, tapi dikabulkan oleh Allah dengan cara yang luar biasa.

Oleh: Ahmad Junizar, Putra Pekal, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Cakrawala Indonesia Bangkit (CIB) 2023-2024, Da’i Majlis Ulama Indonesia (MUI)- Komisi Dakwah MUI Pusat, Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.