
Rejang Lebong – Tumpukan limbah kulit kopi yang selama ini hanya dibuang atau dibakar ternyata menyimpan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya produksi. Potensi tersebut diperkenalkan kepada anggota Gabungan Kelompok Tani Hutan (GAPKTAN) Maju Jaya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan di Desa Tebat Pulau, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong pada Selasa (21/7/2026).
Kegiatan bertajuk “Coffee Waste to Bio-Resource: Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Sebagai Biokompos dan Eco-Enzyme Untuk Mendukung Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Berkelanjutan” ini merupakan bagian dari program
yang didanai melalui PNBP Universitas Bengkulu (UNIB) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan dilaksanakan oleh Tim Dosen Universitas Bengkulu (UNIB) yang diketuai Hefri Oktoyoki, S.Hut., M.Si., dengan anggota Maria Paulina, S.P., M.Si., Hananda Fitra Pranatha, M.Pd., dan Mela Faradika, S.Si., M.Si., serta didukung oleh mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu yang turut mendampingi jalannya pelatihan.
Pelatihan diikuti oleh anggota Gapoktan HKm Maju Jaya yang mayoritas merupakan petani kopi. Selama kegiatan, peserta memperoleh penjelasan mengenai pengelolaan limbah organik sekaligus praktik langsung membuat kompos, ecoenzym, pupuk organik cair, biochar, dan biobriket dengan memanfaatkan limbah kulit kopi serta bahan organik lain yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan mereka.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif sejak awal hingga akhir kegiatan. Peserta tidak hanya mengikuti demonstrasi, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan pembuatan produk. Berbagai pertanyaan muncul selama sesi praktik, mulai dari perbandingan bahan, lama fermentasi, dosis penggunaan kompos pada tanaman kopi, hingga cara aplikasi ecoenzym agar hasilnya optimal. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mulai memanfaatkan limbah organik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Ketua tim pengabdian, Hefri Oktoyoki, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini belum dimaksimalkan.
“Tujuan pelatihan ini agar masyarakat benar-benar mampu menerapkan apa yang dipelajari. Selama ini kulit kopi dan berbagai limbah organik sering dipandang sebagai sampah, padahal memiliki manfaat yang besar,” ujar Hefri.
Ia menambahkan, kompos dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan ecoenzym dapat digunakan sebagai disinfektan alami maupun pupuk cair. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar masyarakat.
“Kami berharap masyarakat dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia maupun NPK yang selama ini harus dibeli, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien dan pertanian menjadi lebih berkelanjutan,” tegas Hefri.

Salah seorang peserta pelatihan, Susanto (49), mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru yang dapat langsung diterapkan di kebun miliknya.
“Biasanya kami buang kulit kopi itu, kadang juga kami bakar. Awalnya memang pernah terpikir mau dijadikan kompos, tapi kami tidak tahu caranya. Setelah ikut pelatihan ini kami jadi paham prosesnya. Ternyata bahan-bahannya mudah didapat dan bisa langsung kami praktikkan sendiri di kebun,” katanya.
Menurut Susanto, pelatihan seperti ini sangat dibutuhkan karena selama ini petani lebih banyak bergantung pada pupuk kimia yang harganya terus meningkat. Dengan kemampuan mengolah limbah menjadi pupuk organik, petani memiliki alternatif untuk mengurangi biaya produksi sekaligus memanfaatkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai.
Kegiatan ditutup dengan diskusi dan evaluasi bersama. Semangat peserta masih terlihat hingga akhir acara. Bahkan setelah sesi pelatihan selesai, beberapa petani masih mengerumuni tim pengabdian untuk berkonsultasi mengenai dosis penggunaan kompos, proses fermentasi ecoenzym, serta kemungkinan mengembangkan produksi secara berkelompok. Tingginya antusiasme tersebut menjadi indikator bahwa materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan berpotensi untuk diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, Universitas Bengkulu berharap pemanfaatan limbah organik tidak lagi dipandang sebagai kegiatan sampingan, melainkan menjadi bagian dari praktik budidaya kopi yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi. Pendampingan semacam ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian petani hutan sekaligus mendorong terwujudnya pertanian berkelanjutan di kawasan Hutan Kemasyarakatan Desa Tebat Pulau. (PMS20/Adv)





