Beranda RAGAM Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf; Dua Menguak Muktamar

Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf; Dua Menguak Muktamar

25

Rejangtoday.com – Ada ironi yang hanya bisa lahir dari dunia politik. Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf membuktikan ironi itu. Dua nama dari tokoh yang memenangkan Gus Yahya di Lampung, kini menjadi bagian dari pertarungan baru di Jombang.

Ya, pada Muktamar NU di Lampung, Desember 2021, Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf berada di belakang KH Yahya Cholil Staquf. Mereka bekerja menggalang dukungan untuk seorang calon yang ketika itu belum tentu menang.

Setelah kemenangan diraih, Gus Yahya bahkan menyebut keduanya sebagai “pendekar-pendekar muktamar”. Orang-orang yang, betapapun sakitnya, selalu “sembuh” ketika musim muktamar tiba.

Kini panggungnya berubah. Lima tahun kemudian, di Tambakberas, Jombang, dua pendekar itu tidak lagi berada dalam konfigurasi politik yang sama dengan Gus Yahya.

Gus Ipul, selian menjadi Mensos, menjadi Sekretaris Jenderal PBNU sekaligus Ketua Organizing Committee Muktamar ke-35. Nusron menjadi Menteri ATR/Kepala BPN dalam pemerintahan Prabowo. Nama Gus Ipul masuk dalam mesin politik siapapun yang berhadapan dengan Gus Yahya, setelah ikhtiarnya menggulingkan seniornya itu gagal total akhir tahun lalu.

Nama Nusron juga muncul dalam klaster tokoh politik dan (konon) perwakilan pemerintahan yang dipetakan sebagai kandidat potensial. Meski kemudian istana buru-buru mengatakan tidak melu-melu dalam Muktamar kali ini.

Politik NU pun memperlihatkan wajahnya yang paling tua: sekawan yang kemarin membantu memenangkan seseorang, hari ini menjadi bagian dari arus perlawanan dan saling bersemuka. Asyik!

Ini bukan sekadar soal pertemanan yang retak dan mungkin agak rusak. Ini soal konfigurasi kekuasaan yang berubah. Keniscayaan yang biasa terjadi di dunia politik. Biasa sekali.

Pada 2021, kepentingan mereka bertemu pada satu titik. Membawa Gus Yahya ke kursi ketua umum. Pada 2026, pertanyaannya berbeda, siapa yang akan menentukan arah NU setelah lima tahun pemerintahan Gus Yahya?

Di situlah politik bekerja. Ia tidak selalu memutus hubungan dengan pertengkaran. Kadang ia hanya mengubah posisi duduk dan berhadapan.

Lampung dan Jombang

Gus Yahya menang di Lampung dengan 337 suara, berhadapan dengan KH Said Aqil Siroj yang memperoleh 210 suara. Di belakang kemenangan itu ada jaringan orang-orang yang memahami satu hal yang sering tidak tertulis dalam AD/ART. Muktamar bukan hanya soal pidato dan gagasan. Ia soal kepercayaan, jaringan, persuasi, dan kemampuan membaca arah angin. Serta ini yang penting; jam mahal bisa dibeli, jam terbang tidak!

Nusron dan Gus Ipul adalah bagian dari mesin itu. Karena itu Gus Yahya menyebut mereka para pendekar muktamar sebenarnya.

Sebuah istilah yang terdengar ringan, tetapi sebenarnya mengandung pengakuan politik, mereka tahu cara bertarung dalam muktamar. Bahkan mungkin sambil tutup mata, mesin muktamar tetap bisa mereka jalankan, apapun caranya dan berapapun harganya.

Lima tahun kemudian, pengalaman yang sama menjadi modal yang berbeda. Bedanya lagi, sampai dini hari tadi, ada info kelas 1 plus yang mengatakan, akhirnya Nusron meninggalkan Gus Ipul, karena Ipul hanya bersikeras melengserkan mas Yahya, tapi mati-matian mempertahankan Kyai Miftah selaku Rois Am.

Nusron pengennya dua-duanya ilang, biar di isi persona baru yang bisa mereka kendalikan. Lalu mereka jadikan alat jualan. Kira-kira begiru. Karenanya dia mainkan isu AHWA agar di isi kyai sepuh pilihan mereka! AHWA yang ngga manut dicongkel saja. Edan!

Dan demikianlah yang terjadi. Akhirnya di Muktamar kali ini, pilihan Ketum diserahkan kepada AHWA, yang jam 8 pagi ini dimulai kocok ulang namanya.

Apakah AHWA kali ini benar-benar pilihan Muktamirin atau setingan Gus Ipul dan Nusron? Tidak semudah itu kawan. Masih banyak loyalis mas Yahya yang menginginkan nama Kyai Sepuh yang paten tetap dipertahankan sebagai AHWA.

Sementara di sisi lain, Cak Imin, diam-diam, terus memantau pergerakan kawan mainnya di dunia politik itu di lapangan, sembari melemparkan ancaman ke Nusron. “Jika AHWA dimainkan, Nusron akan menanggung akibat tak terkirakan,” demikian kira-kira wanti-wanti Cak Imin yang memainkan jurus “wait and see” kepada juniornya di PMII itu.

Muktamar ke-35 bukan sekadar forum rutin pergantian pengurus. Ia adalah forum yang akan menentukan arah NU memasuki babak baru abad keduanya. Agenda muktamar mencakup kepemimpinan lima tahun mendatang dan agenda strategis organisasi.

Dan politik selalu tahu bahwa pada saat sebuah organisasi memilih pemimpin, orang-orang di sekitar pemimpin menjadi sama pentingnya dengan calon pemimpin itu sendiri.

Gus Ipul memiliki posisi strategis, ia mengendalikan salah satu simpul terpenting penyelenggaraan muktamar sebagai Ketua OC. Pada saat yang sama, namanya sendiri menjadi salah satu pemain atau King Maker bursa kandidat ketua umum.

Nusron memiliki modal yang berbeda. Jaringan politik nasional dan posisi di pemerintahan. Namanya juga muncul dalam bursa kandidat ketua umum yang dipetakan oleh Insantara.

Maka kedua nama itu tidak lagi sekadar mantan “orang Gus Yahya.” Mereka telah menjadi aktor dengan kepentingannya sendiri. Dan inilah perbedaan terbesar antara politik personal dan politik organisasi.

Bukan pengkhianatan, melainkan hukum kekuasaan

Mudah sekali menyebut perubahan posisi sebagai pengkhianatan. Tetapi politik yang matang biasanya lebih dingin dan kejam. Yang ngga kuat ke laut aja.

Seorang sekutu dapat berubah menjadi kompetitor bukan karena ia membenci orang yang dahulu didukungnya. Bisa jadi karena persoalan yang diperebutkan telah berubah.

Pada 2021, pertanyaannya, siapa yang menjadi ketua umum? Pada 2026, NU seperti apa yang akan dibangun setelah memasuki abad keduanya?

Jawaban atas pertanyaan kedua jauh lebih mahal. Sebab ia menyangkut arah organisasi, distribusi pengaruh, hubungan dengan negara, generasi baru NU, dan siapa yang akan menjadi pusat gravitasi organisasi dalam lima tahun mendatang.

Karena itu, perubahan posisi Nusron dan Gus Ipul seharusnya dibaca bukan semata sebagai kisah dua orang yang berpindah barisan. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan bekerja di dalam organisasi sebesar NU. Dinamia sekali.

Orang dapat memenangkan seseorang. Tetapi setelah kemenangan, orang itu tidak otomatis menjadi pemilik seluruh loyalitas. Dan di sinilah Gus Yahya diuji

Yang menarik justru respons Gus Yahya. Ketika ditanya mengenai aktivitas Nusron dan Gus Ipul selama muktamar, ia memilih tidak ikut campur. “Buat apa? Tanggung jawab masing-masing, hisab masing-masing,” katanya melempar pertanyaan retoris.

Kalimat itu mungkin lebih politis daripada kelihatannya. Ia mengandung sebuah pesan, setiap pendekar akhirnya harus bertanggung jawab atas pedangnya sendiri. Tidak ada lagi alasan bahwa seseorang pernah membantu memenangkan pertarungan lima tahun lalu.

Dalam politik, jasa memiliki umur. Loyalitas memiliki batas. Dan kemenangan memiliki tanggal kedaluwarsa.

Dua pendekar dan satu pelajaran

Nusron dan Gus Ipul memperlihatkan sesuatu yang sering dilupakan ketika politik terlalu dibaca sebagai drama personal. Politik bukan tentang siapa yang pernah bersama kita. Politik adalah tentang siapa yang sedang berdiri di titik kepentingan yang sama dengan kita. “Makanya aku easy going aja,” kata mas Yahya dini hari tadi. Dia sangat sadar dikeroyok dari segala sisi, bahkan saat Menag Prof Nazaruddin Umar telah mundur dari bursa pencalonan sekalipun.

Di Lampung, Ipul dan Nusron berada di sana bersama Gus Yahya. Di Jombang, konfigurasi itu berubah. Mungkin mereka masih bersahabat. Mungkin masih dan tetap saling menghormati. Bahkan mungkin tidak menganggap diri mereka sebagai lawan sebenarnya, hanya bersandiwara seolah-olah gelut di arena Muktamar.

Tetapi secara politik, peta telah bergeser. Dan peta politik tidak mengenal sentimentalitas semacam itu. Ia hanya mencatat posisi. Dan tidak boleh dimasukkan ke dalam ati.

Itulah sebabnya dua pendekar yang dulu membantu membuka jalan bagi Gus Yahya, kini menjadi lawan besar, dan saling berkompetisi memegang kemudi NU lima tahun ke depan.

Muktamar akhirnya bukan hanya pertarungan untuk memilih seorang ketua. Ia adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang memiliki masa depan. Dan di dunia seperti itu, orang yang kemarin menjadi pedang kita bisa saja hari ini berdiri di seberang medan laga.

Bukan karena pedangnya berubah. Tetapi karena arah medan perangnya yang berubah. Dan itu biasa saja. Kawan jadi lawan, lawan jadi rekan. Udud aja sembari nunggu AHWA baru difinitif dan seperti pemilihan Paus di Vatikan sana dengan Konklaf-nya, tunggu siang ini hasilnya, siapa pemimpin NU barunya. Masih mas Yahya atau nama baru seperti Gus Kikin, dan nama lain misalnya.

Kita tunggu saja. Karena kebaikan hanya menyertai orang-orang yang pandai menunggu!.

Oleh: Bengke Mashurie

Oplus_131072