Sosok Bupati Kopli, Sopir Truk Hingga Tidur Dijalanan

0
498
Sosok Bupati Kopli, Sopir Truk Hingga Tidur Dijalanan

Lebong – Banyak warga Bengkulu yang kini mengenal sosok bernama Kopli Ansori. Kopli dikenal sebagai Bupati Lebong. Tapi siapa sangka, sebelum dikenal seperti sekarang, Kopli memulai karier dari bawah dengan menjadi sopir tangki.

Cita-citanya cukup sederhana, menjadi sopir setelah tamat SMA. Namun, siapa sangka kini dia bisa mengemban amanah sebagai Bupati Lebong periode 2021-2024.

Mengenakan baju kopri, Kopli memulai ceritanya sambil menceritakan semasa kecilnya hingga sekarang di hadapan wartawan.

Masa Kecil di Uram Jaya

Cerita yang Kopli sampaikan berurutan. Ia anak ketiga dari 4 bersaudara. Kondisi kehidupannya saat itu sangat sulit.

Kopli mengisahkan, sejak kecil ia telah merasakan kerasnya kehidupan. Bahkan beberapa kali ia tidak pede melanjutkan pendidikan.

Sebab, sewaktu sekolah ia termasuk anak yang nakal dibanding anak-anak sebaya lainnya. Menurutnya, di eranya dulu, kalau tidak nakal tidak ngetop.

Meski begitu, Kopli mampu menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTA). Sejak tahun 1987 sampai 1993 ia menjalani pendidikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 40 Kota Baru.

Dilanjutkan SMP Negeri 2 Bentangur dari tahun 1993 sampai 1996, dan SMA Negeri 1 Muara Aman dari tahun 1996 sampai 1999.

Pria yang lahir di Kota Baru Uram Jaya, 30 November 1981 ini semasa kecilnya mengalami masa kecil yang begitu sederhana.

Saat sekolah di tingkat SLTA, teman-teman Kopli sudah banyak yang naik sepeda motor, bahkan ada orangtua yang mengantarkan anaknya mengendarai mobil. Kondisi kehidupan teman-temannya acap membuat Kopli minder.

Sikapnya sekarang yang hobi berbincang dan makan bareng petani di sawah nyatanya sudah dilakukannya sejak masa kecil.

Kopli saat ini dikenal sebagai seorang kaya raya dengan berbagai kemewahan yang dimiliki. Di balik itu, sosoknya begitu tegar menjalani kehidupan. Sejak kecil, ia tidak begitu istimewa.

Seiring bertambahnya usia, Kopli mencoba peruntungan sebagai kenek salah satu sopir jasa transportasi di salah satu perusahaan pada tahun 1999. Itupun saat dirinya awal mulanya menjadi kenek.

“Setelah pulang sekolah, saya minta uang dari ibu untuk berangkat ke Bengkulu tahun 1999. Dikasih (ibu) modal Rp 15 ribu untuk naik ke Bus Wanoja mengadu nasib di Bengkulu,” ceritanya.

Di Kota Bengkulu ia terasa baru karena tidak begitu akrab dengan lingkungan sekitar. Dari tahun ke tahun, ia mulai belajar menjadi seorang kenek mengikuti saudaranya.

Akhirnya dia bekerja di salah satu perusahaan, demi bisa belajar menyetir mobil. Sebagai gantinya dia kerap mencuci mobil.

Namun, sembilan bulan berjalan ia memutuskan berhenti. Itupun karena dirinya hanya diupah Rp 125 ribu per bulan jadi sopir.

“Sembilan bulan kerja sebagai kenek, tapi saya tidak tahan,” ucapnya.

Karena tidak ada lagi pekerjaan, ia mencoba membanting stir dengan berjualan ikan di Pasar Ribu Kota Bengkulu. Awalnya, ia mencoba dengan modal Rp 100 ribu.

“Aku mandiri dak pernah minta sama kakak,” celetusnya.

Sebulan kemudian, ia bertemu dengan rekan kerjanya semasa jadi kenek. Kopli kembali diajak untuk bekerja di salah satu perusahaan jasa transportasi pada tahun 2003.

“Selama berangkat saya tidak pernah pulang-pulang ke Lebong. Diajak lagi oleh Ansyori warga Kota Donok Kecamatan Lebong Selatan. Disitulah mulai dilepas,” jelasnya.

“Mulai dari 2003 aku ikut orang Jawa pak Jais. Seiring berjalan, pak Jais. Sebelum 2004 awal aku tidak lagi bersama pak Jais sudah ikut pak Sihombing,” sambungnya

Menikah Sosok Elvi Sukaisih

Pria kelahiran Lebong ini seringkali wara wiri di tanah Bengkulu. Ia tak segan untuk terjun langsung bertemu dan berbincang dengan warga.

Di balik sosoknya yang tegas, ada kisah unik yang pernah dialaminya semasa muda. Bupati dengan slogan Bahagia dan Sejahtera, itu ternyata penuh perjuangan demi mendapatkan sang istri.

Elvi Sukaisih menjadi sosok perempuan yang penting sebelum Kopli sukses seperti sekarang ini. Beberapa ujian yang mereka dapatkan setelah sah menjadi suami-istri pada tahun 2004.

Empat tahun atau terhitung tahun 2004 sampai 2007, keduanya memutuskan tinggal di salah satu kontrakan di Kota Bengkulu milik pak Sihombing yang kebetulan sejawat Kopli di perusahaan tersebut.

Selama ngontrak, setiap harinya Kopli bertugas mengantarkan menjadi sopir Putra Simas.

“Saya disuruh bawa Bis Kecil Putra Simas. Walaupun status belum jadi sopir. Tapi, tahun 2005 mulai bawa sendiri mobil,” ucapnya.

Hanya saja, ujian kembali menerpa kedua pasangan tersebut. Itupun setelah seluruh mobil perusahaan tempatnya bekerja tersebut bangkrut, dan dijual.

“Tahun 2005 mobil tangki dijual. Saya mulai nganggur lagi,” ceritanya.

Menjadi Sopir Lepas Perusahaan Tangki Air

Saat itu ia mulai mencari alternatif untuk bertahan hidup. Beruntung pemilik kos menawarkan ia bekerja dengan pria bernama Bintang asal Sumatera Utara (Sumut).

Karena keahliannya sebagai sopir, maka ia ditugaskan untuk mengantarkan air tangki ke perusahaan-perusahaan di Taba Penanjung.

Sepanjang tahun 2004 sampai 2006 itu diakuinya menjadi masa sulit yang tak pernah bisa dilupakan. Apalagi gaji yang ia terima selama itu hanya Rp 20 ribu per trip. Ditambah lagi, seorang istri diakuinya sebagai juru masak di salah satu rumah makan.

“Disitu kalau 5 kali bolak-balik antar air dapat Rp 100 ribu. Padahal, uang Rp 100 ribu itu sudah termasuk makan dan keperluan pribadi saya,” ucapnya.

Meski upahnya kecil, namun loyalitasnya terhadap perusahaan itu tidak pernah kendor. Bahkan, ia mengakui, pada saat itu CV Bintang tempar ia bekerja memasuki puncaknya.

“Kerjanya lepas. Saya mulai bawa air kemasan dari perusahaan ke perusahaan. Sehari pelanggan sampai 15 titik. Sampai perusahaan ini besar,” ungkapnya.

Nekat Tinggalkan Gaji Demi Bangun Bisnis dari Nol

Untuk memiliki penghasilan puluhan juta bagi seorang lulusan SMA di usia 20 tahunan rasanya tidak mungkin. Kebanyakan orang memandang lulusan SMA saat itu tidak ada apa-apanya.

Namun, hal itu dipatahkan oleh Kopli Ansori. Ia nekat mendirikan perusahaan swasta dengan gaji puluhan juta setiap bulan.

Dia mengakui, sebelum membangun perusahaan ia mundur dari CV Bintang tempatnya bekerja sehari-hari.

Tak hanya itu, ia juga memutuskan pindah kontrakan dan mulai tinggal di kawasan Bandara Fatmawati yang saat ini menjadi kediamannya.

“Aku mulai kontrak di kawasan Bandara. Kalau setahun Rp 600 ribu,” ceritanya.

Meski mundur, ia tetap kerjasama dengan keluarga CV Bintang. Saat itu ia mengaku ekonomi mulai membaik. Itupun setelah mendapat banyak orderan dari pihak swasta. Berkat pergaulannya selama bekerja di dunia wiraswasta.

“Disitu ekonomi keluarga aku mulai membaik,” ungkapnya.

Keuntungan bisnisnya itu mulai dikumpulkan. Bahkan, ia dapat membeli tanah di sekitar kontrakannya tersebut.

“Karena aku ada tanah, bulan Februari 2009 aku buat dapur sebelum kontrak habis, dan tahu 2010 aku mulai buat,” ceritanya.

Rasa hausnya akan ilmu dan kerja kerasnya membawa Kopli bisa menduduki posisi ini. Tapi seiring waktu, menggeluti dunia bisnis bertahun-tahun dengan jam kerja tetap membuat Kopli dilanda kebosanan.

Di tengah jam kosongnya, ia mencari pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan pelarian untuk mengatasi kebosanannya.

Berkutat dengan waktu yang padat, Kopli mencuri-curi waktu belajar membuat perusahaan di tengah waktu kosongnya.

“Mulai tahun 2010-2011 aku mulai bertanya bagaimana cara buat perusahaan. Katanya cukup datangi nota notaris. Nama notarisnya Rudi. Maka modal sekitar Rp 12 juta aku buatlah perusahaan,” jelasnya.

Pada 2012 Kopli meninggalkan kehidupan lama untuk merasakan kebebasan waktu serta finansial dan memulai serius menekuni membuka jaringan perusahaannya bernama PT Aliran Karya.

Modalnya sendiri waktu itu mencapai Rp 270 juta. Uang itu diakuainya tabungannya selama berbisnis. Bahkan, sebelum membangun perusahaan itu ia minta izin istrinya.

“Alhamdulillah istri juga setuju. Pesannya jangan jual aset yang ada,” ucapnya.

Setahun setelah menjalankan PT Aliran Karya, Kopli merasakan keuntungan luar biasa. Bahkan, keuntungan perusahaannya itu diputar untuk membeli aset berupa kendaraan tangki.

Pengalaman menjadi sumber motivasinya. Ia mengulik ilmu-ilmu yang diajarkan selama menjadi kenek dan sopir di perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya.

Kopli langsung mempraktikkannya dengan menjadi Direktur Utama PT Aliran Karya. Pada tahun 2013, Kopli mencoba mulai memasarkan jasa PT Aliran Karya ke para investor di Bengkulu.

Dalam waktu kurang dari satu tahun tahun, lagi-lagi Kopli berhasil membeli 30 unit mobil tangki.

“Tahun 2012 aku Punya 30 mobil tangki. Karena perusahaan sudah besar, aku beralih ke batubara. Jadi, seluruh perusahaan bisa bawa minyak dan oli,” ucapnya.

Lari Ke Dunia Politik Lalu Kalah

Jika mundur lagi ke tahun 2015 lalu, Kopli Ansori pernah mencoba peruntungan maju di Pilkada Lebong.

Ia menceritakan alasan memasuki dunia politik, berawal pahun 2014 lalu. Ia melihat ada informasi bursa pencalonan bupati dan wakil bupati Lebong.

Bermodal keyakinan ia mencoba mendaftarkan diri sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati Lebong. Kala itu ia berpasangan dengan Erlan Joni yang diusung oleh Partai Hanura, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), dan Partai PBB.

“Tahun 2014 saya sempat stop dulu fokus di perusahaan, karena saya lihat ada pembukaan daftar calon bupati, jadi saya daftar,” ucapnya.

Namun, kala itu ia dan Erlan Joni harus menerima kenyataan hanya berada di poisisi kedua perolehan suara. Mereka kalah dari pasangan Rosjonsyah dan Wawan Fernandez.

“Tapi saya harus terima kenyataan kalau tahun 2015 saya kalah,” tuturnya.

Tapi beruntungnya, waktu itu perusahaan miliknya PT Aliran Karya masih aktif.

Ia mengaku memiliki modal Rp 1 miliar untuk kembali memulai geliat diperusahaannya tersebut. Kopli kembali lagi ke Bengkulu meneruskan karir di dunia bisnis.

Ia mengaku, saat itu ia kembali bekerjasama dengan salah satu PT di Bengkulu untuk kembali bisnis bongkar muat tronton.

“Kita ambil tronton 10 unit untuk kembali beroperasi,” ungkapnya.

Namun, diakui Kopli perusahaannya sempat goyang semasa pandemi Covid-19. Bahkan, sempat mengalami kerugian sampi Rp 60 miliar pada tahun 2020

“Ini marwah yang kita jaga. Orang bilang kita habis setelah Pilkada. Tapi, kita manfaatkan peluang yang ada,” bebernya.

Sempat Kalah Calon Lagi Bupati Hingga Terpilih

Bukannya kapok, ayah tiga anak ini justru terus mencoba dan mencoba dengan mengubah teknik selama pesta demokrasi. Setelah kegagalannya tahun 2015, ia kembali mencalonkan diri pada tahun 2020.

Sebelum mencalonkan diri sebagai kepala daerah, ia sempat dipilih Ketua DPW Bengkulu, Helmi Hasan menjadi Ketua DPD PAN Kabupaten Lebong periode 2015–2020.

Tak sia-sia, pada Pileg 2019 ia membuktikan kepiawannya di dunia politik menjadikan partai PAN yang sebelumnya tanpa kursi di DPRD Lebong, justru keluar sebagai partai pemenang dan mengantongi kursi Ketua DPRD Lebong.

Bahkan pria yang terpilih menjadi Ketua Kadin Kabupaten Lebong periode 2016–2021, ini resmi menjadi Bupati Lebong periode 2021 sampai 2024 usai menang Pilkada 2020.

Atas keberhasilannya itu, ia kemudian ditarik menjadi pengurus DPW PAN Provinsi Bengkulu sebagai Bendahara Umum periode 2021 sampai sekarang.

Saat ini kursi pimpinannya di DPD PAN Kabupaten Lebong digantikan oleh saudaranya Carles Ronsen yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Lebong.

“Semua hal yang kita jalani, intinya minta restu istri dan orang tua,” akhiri Kopli berbicang dengan wartawan.

Penantian Langkah Politik Kopli di Pilkada 2024

Menjelang Pilkada 2024, langkah politik Kopli Ansori sangat dinanti. Apakah maju Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwakot) Bengkulu atau Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Lebong.

Saat ini, dukungan maju di Pilkada Lebong untuk periode kedua, terus mengalir. Bahkan, relawan orang nomor satu di Kabupaten Lebong itu telah mengambil formulir semua partai yang membuka penjaringan calon kepala daerah.

Kopli Ansori yang merupakan Bupati Lebong sekaligus incumbent untuk Pilkada Lebong nantinya, masih belum mau berkomentar banyak terkait perkembangan politik di Kabupaten Lebong. Terutama saat ditanya soal apakah maju Pilkada Lebong atau Pilwakot Bengkulu.

Dirinya hanya tersenyum dan menyebut, akan menunggu apa yang akan diputuskan partai berlambang matahari terhadap dirinya.

‘’Kan sudah saya sampai, mau Pilwakot atau Pilkada, itu tinggal kepercayaan dan amanah yang akan diberikan partai. Terpenting, saya tetap bisa berbuat untuk rakyat bersama PAN di Provinsi Bengkulu,’’ singkat Kopli. (PMS20)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini